MISTERI HIDUP

Hidup adalah sesuatu yang ternyata sulit untuk diprediksi. Ia selalu memiliki misteri yang membuat semua orang harap-harap cemas akan apa yang terjadi berikutnya dalam kehidupan mereka. Misteri itu hanya berujung pada 2 hal saja, kebahagian atau kepahitan. Kebahagiaan melahirkan canda tawa yang menceriakan hidup, sementara kepahitan melahirkan tangis pilu yang menyayat hati. Sejatinya, semua orang menginginkan kehidupan mereka selalu berbahagia. Ya, kebahagiaan menjadi sesuatu yang diidamkan sehingga apapun sanggup dipertaruhkan untuk meraihnya. Sementara kepahitan adalah sesuatu hal yang ingin selalu dihindari karena menimbulkan rasa sakit dan penderitaan dalam hidup. Pasti tidak akan pernah terbersit dipikiran semua orang untuk menerima yang namanya kepahitan tersebut. Namun, yang namanya hidup, mau tidak mau kita yang bergelar manusia ini harus bersentuhan dengan 2 hal tersebut. Suka atau tidak suka, suatu saat pasti kita akan merasakannya. Pun begitupula dengan kehidupan yang aku jalani saat ini, dimana aku tidak bisa dilepaskan dengan kedua hal tersebut. Tentu saja aku sebagai manusia yang masih berpikiran waras, memilih untuk berbahagia dan sebisa mungkin menghindari kepahitan. Untuk itulah aku mencoba dengan sekuat tenaga berbuat yang terbaik dalam hidup agar mampu meraih kebahagiaan tersebut. Aku juga berusaha meminimalisir setiap kesalahan sehingga tidak ada peluang bagiku untuk terperosok pada hasil akhir yang berujung kepahitan. Namun, sebagus atau sehebat apapun usaha yang telah dirancang, selalu saja ada kemungkinan celah kecil yang dapat menghancurkannya. Hal itu menjadi sesuatu yang tak dapat diprediksi dan tak dapat ditolak. Tentu jika berlaku hal tersebut, rancangan awal yang telah dipersiapkan dengan matang menjadi kacau dan berantakan. Pastinya akan terbersit didalam hati perasaan kecewa menerima hasil yang berkebalikan dari harapan. Rasanya sia-sia saja dengan apa yang telah diusahakan selama ini. Dan jika tidak siap menerima kenyataan, kita bisa mengalami depresi. Depresi ini bila terus dibiarkan, maka ia akan menggerogoti kehidupan kita dan pada akhirnya menjelma menjadi sosok monster yang mengerikan. Sebagai manusia pada umumnya, aku telah menyusun rencana-rencana yang menurutku hebat yang kuyakini dapat menghantarkan aku pada biduk kebahagiaan. Untuk itu, aku telah membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan dengan menuliskannya secara detail didalam buku. Semua daftar yang telah ditulis tersebut seakan terorganisir dengan rapi karena disertai pula dengan langkah-langkah cara pencapaiannya. Tidak lupa juga aku kolaborasikan dengan pengalaman hidup yang pernah kudapat serta dengan terus menggali pengetahuan-pengetahuan, baik melalui buku-buku maupun informasi yang bersumber dari internet yang nantinya berdasarkan asumsiku akan sangat membantu merealisasikan keinginanku tersebut. Tapi pada akhirnya, mau tidak mau aku harus berkompromi juga dengan yang namanya ketetapan Tuhan. Semua hal yang telah aku rencanakan rontok satu demi satu. Dalam artian, apa yang aku harapkan pada kenyataannya malah berkebalikan dan tidak sesuai dengan keinginan hati. Melihat keaadaan itu, rasanya gusar dan ingin melampiaskannya dengan emosi yang tinggi. Tapi aku mencoba meredam perasaan yang tidak baik tersebut dengan terus berpikir positif dan selalu mengingat pepatah lama yang mengatakan bahwa setiap kejadian mengandung hikmah yang tersembunyi. Sebenarnya, aku bingung dengan tidak tercapainya harapan itu. Ingin rasanya menyerah dan berhenti saja sampai disini. Namun seakan selalu ada suara-suara yang berbisik di hati ini yang mencoba kembali menyemangatiku untuk tetap tegar, untuk tidak menyerah kalah dan untuk tetap melanjutkan hidup sesulit apapun keadaannya. Dan aku memilih untuk menurutinya seraya terus menunggu kebahagiaan itu datang dengan kembali memperbaiki usaha yang telah rontok tersebut sambil berdoa tentunya. Dan dari semua yang telah terjadi dalam kehidupanku itu, maka aku : Belajar untuk menyikapi segala permasalahan hidup dengan lebih bijaksana. Belajar untuk menerima sesuatu yang pahit dengan tidak melakukan tindakan bodoh. Belajar untuk selalu berpikiran positif dan membuang jauh pikiran negatif takkala badai permasalahan hidup menghantam. Belajar untuk sabar takkala harapan yang diimpikan malah pada kenyataannya berkebalikan. Belajar untuk menerima hidup apa adanya dengan tidak menuntut ini dan itu. Belajar untuk tidak mudah sakit hati kepada mereka yang melalui ucapan dan perbuatannya telah merendahkanmu. Belajar untuk tidak mudah kecewa ketika semua usaha yang telah dilakukan disepelekan dan dianggap tidak berharga. Belajar untuk tetap bersyukur dengan segala anugerah yang telah diberikan meski tidak sesuai dengan keinginan hati. Belajar untuk ikhlas menerima keadaan disekelilingmu yang kau pikir penuh dengan kekurangan-kekurangan dan ketidakidealan. Belajar untuk selalu berbaik sangka kepada Tuhan bahwa pemberian-Nya, meski itu buruk sekalipun adalah yang terbaik bagi hidup kita. Oleh karena itu, aku harus percaya dan yakin bahwa rancangan Tuhan adalah sebaik-baik rancangan. Rancangan-Nya tidak akan pernah salah. Adapun jalan berduri yang Ia hamparkan dalam kehidupan kita adalah proses untuk mendewasakan. Cepat atau lambat, Ia akan mengganti kepahitan itu dengan kebahagiaan seperti halnya Ia akan menghadirkan pelangi indah setelah hujan badai berlangsung. Hanya masalah waktu saja karena Ia akan menghadirkan kebahagiaan itu pada waktu yang tepat dan pada saat kondisi kita juga telah siap menerimanya. Mudah-mudahan, aku tetap bersabar menunggu datangnya waktu itu.
 

PENGGUNAAN BLACKBERRY DAPAT MENYEBABKAN STRESS DAN MENURUNKAN PRODUKTIVITAS

Psikolog Inggris yang meneliti perilaku orang dalam menggunakan BlackBerry secara terus-menerus menyebut, perangkat itu bisa meningkatkan tingkat stress, dan kemungkinan besar juga menurunkan produktivitas. Kebiasaan sekelompok eksekutif menengah hingga senior dalam menggunakan BlackBerry dipelajari oleh Amir Khaki dari AK Consulting dan menggolongkannya menjadi pengguna dengan frekuensi tinggi dan rendah. Pengguna “tinggi” biasanya mengaktifkan BlackBerry selama dalam perjalanan menuju tempat bekerja, saat terjaga di malam hari dan selama akhir pekan. Sementara pengguna dalam kategori “rendah” umumnya hanya mengalokasikan waktu tertentu untuk memeriksa BlackBerry dan merespon email. “Orang-orang yang jatuh ke kategori pengguna yang tinggi cenderung memiliki persepsi menyimpang tentang penggunaan pribadi dan mereka menyamakan penggunaan BlackBerry seperti didedikasikan untuk pekerjaan,” kata Khaki. Tapi antusiasme menggunakan BlackBerry itu ternyata tidak berarti efisiensi menyangkut pekerjaan. Dalam satu contoh yang diamati Khaki, untuk menyelesaikan sebuah spreadsheet sederhana seharusnya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Tetapi user tinggi, bisa tiga kali lebih lama karena memantau BlackBerry-nya. Efek dari gangguan itu adalah menciptakan kecemasan. “Pekerjaan tidak selesai seperti seharusnya. Ketergantungan itu tercipta bila tidak dapat menemukannya, dan itu dapat menyebabkan stres,” katanya. Sementara perhatian pengguna tinggi juga terdorong untuk teralihkan dari pasangannya dan kadang-kadang menyebabkan kehancuran. “Banyak yang benci. Aku dengar cerita ada yang hingga parah,” kata Khaki. Khaki menyarankan perusahaan yang membekali karyawannya smartphone setidaknya menyediakan pelatihan tingkat dasar. “Anda perlu tahu bagaimana menggunakannya dengan benar. Bagaimanapun kita mendapatkan pelatihan, ketika setiap teknologi lain datang,” kata Khaki. Ia menyarankan perusahaan untuk mendorong karyawannya melakukan pembatasan penggunaan. Secara keseluruhan Khaki merekomendasikan maksimum 12 jam selama sepekan jam kerja. Pada tingkat pribadi, Khaki memberikan nasihat sederhana: “Pada awal setiap tugas, matikan! Gangguan tidak membantu orang melakukan sesuatu menjadi lebih baik, lebih cepat atau kualitas lebih tinggi.” Ia menambahkan penelitian menunjukkan orang yang banyak merespons email lebih sedikit menyia-nyiakan waktu, dan melakukan pekerjaan lebih baik. Apalagi dengan semakin banyak orang yang mengupgrade ponselnya ke smartphone, masalah menyangkut produktivitas dan stres pasti akan naik, karena makin banyak eksekutif yang menemukan garis yang kabur antara pekerjaan dan waktu senggang. Kecenderungan itu juga mengusik Cary Cooper, Profesor Psikologi dan Kesehatan Organisasi di Universitas Lancaster Inggris Management School. “Kami menemukan orang-orang melakukan pekerjaan di waktu luang mereka dan itu memiliki konsekuensi baik pada kesehatan maupun produktivitas mereka,” kata Cooper. Ia mengatakan semua teknologi seharusnya menjadi sistem pendukung sosial manusia. Tapi sebaliknya malah seperti tali pusar yang menghubungkan kembali ke tempat kerja, bahkan ketika di luar jam kerja. “Saya pikir apa yang akhirnya terjadi adalah teknologi adalah mengelola orang-orang daripada orang-orang mengelola teknologi,” tambahnya. Cooper menilai resesi bisa memperparah masalah. “Gunakan BlackBerry secara rasional. Jika sedang berlibur, akses sekali saja setiap dua hari, jelaskan Anda sedang bepergian dan akan merespon saat Anda kembali.”